Friday, October 23, 2026
HomePendidikanUnusa Peringkat Pertama Kampus NU di Indonesia

Unusa Peringkat Pertama Kampus NU di Indonesia

kilassurabaya.com | SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menempati peringkat pertama dalam pemeringkatan keunggulan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) 2026 yang diumumkan Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PBNU, Rabu (21/10). Capaian ini menjadi kado istimewa bagi Unusa menjelang peringatan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober.

Dalam pemeringkatan tersebut, Unusa meraih skor akhir 7,2323, menempatkannya pada posisi teratas Klaster Elit bersama delapan perguruan tinggi NU lainnya. Hasil ini menjadi pengakuan atas perkembangan institusi dalam pengelolaan pendidikan tinggi, kinerja riset dan publikasi ilmiah, reputasi akademik, serta kontribusi kepada masyarakat dan organisasi Nahdlatul Ulama.

Sekretaris Jenderal LPTNU PBNU, Dr. rer. pol. H. M. Faishal Aminuddin, M.Si., menjelaskan bahwa pemeringkatan keunggulan PTNU 2026 merupakan upaya untuk memetakan perkembangan perguruan tinggi dalam ekosistem NU sekaligus mendorong peningkatan kualitas secara berkelanjutan.

Menurutnya, proses penilaian berlangsung selama lebih dari tiga bulan dan menyasar 284 perguruan tinggi yang masuk dalam ekosistem Nahdlatul Ulama.

“Pemeringkatan ini menggunakan tujuh variabel penilaian dengan bobot yang berbeda-beda. Variabel tersebut meliputi jumlah mahasiswa aktif, aset dan ketahanan keuangan, kinerja riset dan publikasi ilmiah, jumlah guru besar dan lektor kepala, reputasi akademik, capaian alumni, serta keterhubungan dengan organisasi NU dan badan otonomnya,” jelas Faishal.

Ia menambahkan, Unusa menempati posisi pertama pada Klaster Elit karena memperoleh capaian tinggi pada sejumlah variabel yang memiliki bobot besar.

“Jumlah mahasiswa aktif Unusa yang lebih dari 5.000 orang, capaian riset dan publikasi di jurnal prestisius, reputasi akademik yang mengesankan melalui berbagai luaran riset yang dimanfaatkan, serta hubungan intensif dalam pelayanan kepada NU dan anggotanya menjadi sejumlah faktor penting yang mendukung capaian tersebut,” ujarnya.

Ketua LPTNU PBNU periode khidmah 2022–2026, Prof. Ainun Na’im, turut menyampaikan ucapan selamat atas capaian Unusa. Ia menegaskan bahwa pemeringkatan ini dirancang sebagai stimulus positif bagi perguruan tinggi NU agar terus memperbaiki kinerja dari waktu ke waktu.

Pemeringkatan tersebut menggunakan tujuh variabel dengan total bobot 100 persen. Bobot terbesar diberikan kepada jumlah mahasiswa aktif sebesar 20 persen serta kinerja riset dan publikasi ilmiah sebesar 20 persen. Sementara itu, jumlah guru besar dan lektor kepala serta reputasi akademik masing-masing berbobot 15 persen.

Tiga variabel lainnya, yakni aset dan ketahanan keuangan, capaian alumni, serta keterhubungan dengan organisasi NU dan badan otonomnya, masing-masing berbobot 10 persen.

Kado Hari Santri

Bagi Unusa, capaian ini memiliki makna khusus karena diumumkan sehari menjelang Hari Santri Nasional 2026. Momentum tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa perjuangan kaum santri pada abad ke-21 tidak hanya berkaitan dengan sejarah perjuangan fisik, tetapi juga dengan upaya membangun keunggulan ilmu pengetahuan, teknologi, moralitas, dan kesejahteraan masyarakat.

Rektor Unusa, Prof Tri Yogi Yuwono memaknai semangat Resolusi Jihad yang diwariskan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai energi perjuangan yang tetap relevan, meskipun medan perjuangannya telah berubah.

“Jika dahulu perjuangannya bersifat fisik melawan penjajah, maka jihad modern adalah jihad melawan kebodohan, ketertinggalan teknologi, kemiskinan, dan degradasi moral. Jihad kaum santri zaman sekarang adalah mengangkat pena, menguasai sains, melakukan riset, serta mengendalikan teknologi agar membawa kemaslahatan bagi umat,” ungkap Rektor dalam wawancara khusus menjelang Hari Santri Nasional.

Menurutnya, perguruan tinggi NU memiliki tanggung jawab besar untuk menerjemahkan semangat perjuangan tersebut ke dalam karya nyata. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik yang baik, tetapi juga harus membangun karakter yang tekun, disiplin, berintegritas, dan beradab.

“Dunia ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang yang tekun, rajin, disiplin, dan beradab. Kecerdasan akademik dapat terus dilatih, apalagi dengan bantuan teknologi dan kecerdasan buatan. Namun, integritas moral, kedisiplinan, dan daya juang merupakan karakter penting yang membedakan seseorang dalam menghadapi persaingan,” tegasnya.

Rektor menjelaskan, Unusa menerjemahkan semangat tersebut melalui nilai GREATS, yakni Growth, Reputation, Empowerment, Advancement, Transformation, dan Sustainability. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan pengembangan kampus dalam memperkuat pendidikan, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Bagi Unusa, menjadi yang teratas dalam pemeringkatan bukanlah garis akhir, melainkan amanah untuk terus meningkatkan mutu dan memperluas kemanfaatan. Semangat Hari Santri harus menjadi energi untuk melahirkan karya, inovasi, dan pengabdian yang membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa. (ist)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments