Saturday, September 12, 2026
HomePendidikanLewat Hijab CIARRA, Mahasiswa Unusa Hidupkan Kembali Motif Batik Ciamis

Lewat Hijab CIARRA, Mahasiswa Unusa Hidupkan Kembali Motif Batik Ciamis

kilassurabaya.com | SURABAYA – Lima mahasiswa Program Studi S1 Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mencoba membawa kembali kekayaan budaya lokal ke tengah gaya hidup generasi masa kini. Melalui CIARRA, mereka mengembangkan produk hijab segiempat berbahan Voal Ultrasoft dengan teknologi printing yang mengadaptasi sejumlah motif khas Batik Ciamis.

Motif Rereng Eneng, Sulur Anggrek, dan Cupat Manggu menjadi inspirasi utama pengembangan produk tersebut. Bagi tim CIARRA, mengangkat motif batik ke dalam produk fashion muslimah bukan sekadar menciptakan desain baru, tetapi juga menjadi cara untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya lokal melalui produk yang dekat dengan keseharian masyarakat.

Gagasan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap keberadaan Batik Ciamis yang sempat mengalami kemunduran dan bahkan hilang dari peredaran selama kurang lebih 20 tahun akibat persaingan dengan batik cetak dan tekstil bermotif batik. Kondisi itu mendorong mahasiswa Unusa mencari pendekatan baru agar motif Batik Ciamis tetap relevan dan dapat diterima oleh masyarakat masa kini.

Semangat tersebut kemudian dirangkum dalam tagline “CIARRA: Cantik Berbudaya, Anggun Bermakna.” Melalui CIARRA, tim berupaya mempertemukan identitas budaya lokal dengan kebutuhan fashion muslimah yang modern, nyaman, dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

CIARRA dikembangkan oleh Putri Salsabila Az Zahra dan Lailatul Fitriani mahasiswa angkatan 2023, serta Siti Hidayah, Tasya Ananta, dan Sahda Naila Alim mahasiswa angkatan 2024. Kelimanya merupakan mahasiswa S1 Manajemen Unusa di bawah bimbingan dosen Rachma Rizqina Mardhotillah, S.T., M.M.

Empat Motif Menjadi Koleksi

Dalam pengembangannya, CIARRA telah menghasilkan empat motif hijab, yakni Sajunta Series, Rereng Series, Asri Series, dan Mustika Series. Masing-masing dikembangkan dengan karakter visual yang berbeda, tetapi tetap membawa inspirasi dari kekayaan motif Batik Ciamis.

Rereng Series, misalnya, memadukan motif Rereng Eneng dan Lepaan Kembang. Pola yang dinamis dipadukan dengan unsur floral dan diterjemahkan ke dalam desain hijab dengan nuansa feminin. Sementara Sajunta Series mengangkat motif Sulur Anggrek yang memiliki karakter flora, lembut, dan anggun, kemudian dikembangkan dalam nuansa earthy untuk menghadirkan kesan tenang dan elegan.

Proses pengembangan produk dilakukan mulai dari pemilihan bahan, perancangan desain, proses printing, penjahitan label, pengemasan, hingga distribusi. Di luar aspek produk, tim juga mengikuti berbagai bimbingan dan pelatihan untuk memperkuat kemampuan bisnis, termasuk digital marketing, pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), serta pengembangan desain media dan produk.

Jadi Rintisan Usaha

CIARRA juga mulai dibangun sebagai sebuah rintisan usaha. Dari sisi legalitas, tim telah memiliki NPWP dan NIB serta sedang dalam proses pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk melindungi identitas dan inovasi yang dikembangkan.

Strategi pemasaran dilakukan melalui pendekatan Business-to-Business (B2B) dan Business-to-Customer (B2C). Untuk B2B, tim memperluas distribusi melalui kerja sama dengan Ibu PKK di Ciamis, konsinyasi dengan Koperasi Mahasiswa Unusa, bazar, serta corporate sales. Sementara kanal B2C dikembangkan melalui Instagram, TikTok, WhatsApp, Pinterest, TikTok Shop, Shopee, dan WhatsApp Business.

Upaya memperluas pasar juga dilakukan melalui kemitraan dengan sejumlah pihak, antara lain Koperasi Mahasiswa Unusa, PKK Desa Kertajaya-Ciamis, PKK Desa Karangpawitan-Ciamis, USG Unusa, ToBe Shop Surabaya, serta Asrama Al Khadijah Ponpes Darul Hidayah, Mojokerto. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperluas pemasaran sekaligus membangun ekosistem pengembangan produk.

Bagi tim CIARRA, perjalanan mengembangkan hijab bermotif Batik Ciamis tersebut menjadi pengalaman bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui cara-cara konvensional. Motif tradisional dapat diperkenalkan melalui produk yang dekat dengan generasi muda, sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Melalui CIARRA, mahasiswa S1 Manajemen Unusa mencoba membuktikan bahwa budaya dan bisnis tidak harus berjalan di dua jalur yang berbeda. Kekayaan motif lokal dapat menjadi sumber inspirasi kreativitas, sementara kreativitas dapat menjadi jalan untuk menjaga agar warisan budaya tetap hadir dan digunakan dalam kehidupan masyarakat masa kini. (ist)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments